Check This Out

Check This Out Bro & Sis

Minggu, 28 Mei 2017

Komunikasi Bahaya Kimia dengan Sistem SDS (Lanjutan - Bahaya Fisik)


Lanjutan Komunikasi Bahaya Kimia dengan Sistem SDS   
Mengenai Klasifikasi Bahaya fisik

Review mengenai Komunikasi Bahaya
Komunikasi Bahaya dapat didefinisikan sebagai penyampaian informasi mengenai bahaya-bahaya yang berhubungan dengan bahan kimi baik saat penggunaan, penanganan, penyimpanan, transportasi didalam maupun keluar pabrik.

Pada Pembahasan kali ini kita akan fokus kepada Klasifikasi Bahaya Pada GHS khususnya bahaya Bahaya Fisik, Bahaya Kesehatan dan Bahaya Lingkungan.

Untuk Bahaya Fisik di Klasifikasikan menjadi 17 diantaranya adalah ;eksplosif, gas yang mudah menyala, aerosol,gas pengkosidasi, gas di bawah tekanan, cairan mudah menyala,padatan mudah menyala, Bahan kimia tunggal dan campuran yang dapat bereaksi sendiri,cairan piroforik,padatan piroforik, Bahan kimia tunggal dan campuran yang dapat menimbulkan panas sendiri, Bahan kimia tunggal dan campuran yang apabila kontak dengan air melepaskan gas yang mudah menyala, Cairan pengoksidasi, Padatan pengoksidasi, Peroksida organik, korosif pada logam dan eksplosif terdesenesitisasi.

1. Eksplosif/ Mudah Meledak
Padatan / cairan (atau campuran zat) yang dengan sendirinya mampu menghasilkan gas melalui reaksi kimia pada suhu dan tekanan serta kecepatan tertentu yang dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan sekitarnya. Bahan kimia yang pada suhu dan tekanan standar (25˚C, 760 mmHg) dapat meledak apabila reaksi kimia menghasilkan : Gas dalam jumlah yang besar, Tekanan besar dan suhu yang tinggi 

Ciri - ciri bahan mudah meledak : 
1. Peka terhadap panas dan pengaruh mekanis contoh : Ammonium nitrat, Nitrogliecerine, TNT ( Trinitoluen), 2. Debu Eksposif : debu karbon, zat warna diazo, mangnesium. 3. Campuran eksposif : campuran bahan oksidator + reduktor contoh asam nitrat+ etanol

Kategori dan Kriteria
1.1 Bahaya ledakan tinggi
1.2 Bahaya proyeksi
1.3 Bahaya kebakaran atau bahaya proyeksi minor
1.4 Tidak ada bahaya berarti
1.5 Bahan kimia tunggal sangat tidak sensitif dengan bahaya ledakan tinggi
1.6 Bahan kimia tunggal tidak sensitif ekstrim tanpa bahaya ledakan tinggi


2. Gas Mudah Menyala
Gas mudah menyala termasuk gas pyrophoric dan gas yang tidak stabil secara kimia (chemically unstable gas, memiliki flammable range dengan udara pada 20˚C / Flash point 20˚C < dan tekanan standar 101,3 KPa.

Gas pyrophoric adalah gas yang mudah menyala yang dapat terbakar secara spontan di udara pada temperatur di bawah 54˚C dan Gas yang tidak stabil secara kimia adalah gas yang mudah menyala yang dapat bereaksi secara eksplosif meskipun dalam kondisi tanpa udara atau oksigen

Kategori dan Kriteria
Gas mudah menyala
1. Gas-gas yang pada 20˚C dan tekanan standard 101,3 Kpa: (a)Menyala pada konsentrasi ≤ 13% v/v di udara (b)Memiliki flammable range > 12 di udara
2. Gas-gas di luar kategori 1, namun memiliki flammable range pada 200C dan tekanan standard 101,3 Kpa


Gas Piroforik 
A. Gas mudah menyala yang tidak stabil secara kimia pada 20˚C dan tekanan standard 101,3 Kpa 
B. Gas mudah menyala yang tidak stabil secara kimia pada temperature diatas 20˚C dan/atau tekanan diatas 101,3 Kpa

3. Aerosol
Tempat penyimpanan material non-isi ulang yang terbuat dari logam, kaca atau plastik dan mengandung gas bertekanan, gas yang dicairkan atau dilarutkan di bawah tekanan, dengan atau tanpa cairan, pasta atau bubuk, dan dilengkapi dengan perangkat pelepasan yang memungkinkan isi di dalamnya dikeluarkan sebagai partikel padat atau cair dalam suspensi ddalam gas, sebagai busa, pasta atau bubuk atau dalam keadaan cair atau dalam keadaan gas. Contoh: Insektisida
Kategori dan Kriteria
1. Konsentrasi komponen mudah menyala (gas/cair/padat) > 1%; atau memiliki panas pembakaran ≥ 30 kJ/g; Pengapian terjadi pada jarak ≥ 75 cm dalam uji pengapian
2. Konsentrasi komponen mudah menyala (gas/cair/padat) > 1%; atau memiliki panas pembakaran > 20 kJ/g; Pengapian terjadi pada jarak ≥ 15 cm dalam uji pengapian
3. Konsentrasi komponen mudah menyala (gas/cair/padat) ≤ 1%; atau memiliki panas pembakaran < 20 kJ/g

4. Cairan Mudah Menyala
Cairan mudah menyala adalah cairan yang memiliki flash point ≤ 93˚C
Kategori dan Kriteria
1. Flash point < 230C dan initial boiling point ≤ 350C
2. Flash point < 230C dan initial boiling point > 350C
3. Flash point ≥ 230C dan initial boiling poin ≤ 600C
4. Flash point > 600C dan initial boiling poin ≤ 930C



5. Padatan Mudah Menyala
Padatan yang mudah terbakar, atau mungkin menyebabkan atau memberikan kontribusi kebakaran melalui gesekan Contoh: serbuk logam
Kategori dan Kriteria
1. Test kecepatan Pembakaran: Zat dan campuran selain powder logam.





(a)Pembasahan zona tidak menghentikan api 
(b)Waktu pembakaran < 45 detik atau kecepatan pembakaran > 2,2 mm/detik, Powder logam: waktu pembakaran ≤ 5 menit

2. Test kecepatan Pembakaran: Zat dan campuran selain powder logam: (a)Pembasahan zona menghentikan api paling tidak selama 4 menit (b)Waktu pembakaran < 45 detik atau kecepatan pembakaran > 2,2 mm/detik, Powder logam: waktu pembakaran > 5 menit dan ≤ 10 menit

6. Cairan piroforik
Cairan (yang bahkan dalam jumlah kecil) cenderung memicu api dalam waktu 5 menit setelah kontak dengan udara Contoh: Organoaluminium






7. Padatan piroforik, 
Bahan padat (yang bahkan dalam jumlah kecil), cenderung memicu api dalam dalam waktu 5 menit setelah kontak dengan udara,Contoh: logam Sodium







8. Bahan kimia tunggal dan campuran yang dapat menimbulkan panas sendiri
Padatan / cairan / campuran (selain piroforik) yang jika bereaksi dengan udara dan tanpa pasokan energi, cenderung dapat memanaskan diri sendiri. Bahan kimia tunggal / campuran yang dapat terignisi ketika dalam jumlah besar (kilogram) dan dalam jangka waktu lama (jam/hari). Contoh: Magnesium etoksida.








9. Bahan kimia tunggal dan campuran yang apabila kontak dengan air melepaskan gas yang mudah menyala
Padatan / cairan / campuran melalui interaksi dengan air, cenderung mudah menyala secara spontan atau menghasil

10. Gas Pengoksidasi (Oksidator)
Setiap gas yang secara umum dapat menyediakan oksigen, menyebabkan atau memberikan kontribusi pada pembakaran bahan lain lebih dari yang udara dapat lakukan.Contoh: oksigen dan klorin 
Terdiri dari Oksidator anorganik : permanganat, perklorat dan dikromat sedangkan perolsida organik : benzil peroksida, eter oksida dan anorganik nitrat, bromat dan dicromat

11. Cairan pengoksidasi
Cairan yang ketika dalam bentuk tunggal belum tentu mudah terbakar, dapat secara umum menghasilkan oksigen atau zat pengoksidasi lainnya (seperti bromin, klorin, atau fluorin), menyebabkan atau berkontribusi terhadap pembakaran bahan lainnya. Contoh: asam nitrat

12. Padatan pengoksidasi
Padatan yang ketika berbentuk tunggal belum tentu mudah terbakar, dapat secara umum menghasilkan oksigen atau zat pengoksidasi lainnya (seperti bromin, klorin, atau fluorin), menyebabkan atau berkontribusi terhadap pembakaran bahan lainnya. Contoh: potasium klorat




13. Gas Bertekanan (Gas Under Pressure)
as bertekanan adalah gas-gas yang tersimpan dalam tabung dengan tekanan ≥ 200 KPa pada 20˚C, atau yang liquefied atau liquefied and refrigerated
Kategori dan Kriteria
Compressed Gas (Gas Bertekanan) - Gas yang saat dikemas dengan tekanan berwujud gas pada -50˚C; termasuk semua gas dengan temperature kritis -50˚C

Liquefied Gas (Gas dicairkan)- Gas yang saat dikemas dengan tekanan sebagian berwujud cair pada temperature diatas -50˚C. Kategori ini dibagi dua:(a)High pressure liquefied gas: gas dengan temperature kritis diantara -50˚C dan +65˚C (b) Low pressure liquefied gas: gas dengan temperature kritis > 65˚




Refrigerated Liquefied Gas (Gas dicairkan dan dibekukan)-Gas yang saat dikemas sebagian berwujud bahan kimia tunggal atau campuran yang melalui perlakuan kimianya dapat merusak material, atau bahkan menghancurkan logam Contoh: air amonia, asam sulfat

15. Bahan kimia tunggal dan campuran yang dapat bereaksi sendiri
Cairan / padatan / campuran yang tidak stabil secara termal cenderung mengalami dekomposisi yang sangat eksotermis bahkan tanpa oksigen (udara). Definisi ini tidak termasuk bahan kimia tunggal dan campuran yang diklasifikasikan dalam GHS sebagai eksplosif, peroksida organik atau sebagai pengoksidasi. Contoh: m-dinitrobenzene
















16. Peroksida organik, 
Cairan / padatan organik yang mengandung bivalen berstruktur O-O- Contoh: peroksida keton etil metil















17. Eksplosif terdesenesitisasi.
Zat atau campuran padatan atau cairan yang mudah meledak yang di plegmatisasi untuk menurunkan sifat eksplosif nya sehingga tidak termasuk ke dalam kelompok eksplosif.
Kategori- Kriteria
1. Eksplosif terdesensitisasi dgn kecepatan terbakar terkoreksi ≥ 300 kg/min namun < 1200 kg/min
2. Eksplosif terdesensitisasi dgn kecepatan terbakar terkoreksi ≥ 140 kg/min namun < 300 kg/min
3. Eksplosif terdesensitisasi dgn  kecepatan terbakar terkoreksi ≥ 60 kg/min namun < 140 kg/min
4. Eksplosif terdesensitisasi dengan kecepatan terbakar terkoreksi < 60 kg/min

Bersambung ke Part -3 Bahaya Kesehatan, insya Allah.

Semoga Bermanfaat & Terima Kasih
Andry Kurniawan, SKM.,MKKK."Coming together is a beginning, Keeping together is progress., Working together is success“ Safety not only about knowledge and how to manage risk it’s about needed because safety is everybody business",
More info: Andryzsafe@yahoo.com/Andryzsafety@gmail.com, CP : (+62)81219662291
Tidak dilarang untuk mengcopy dan menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya. budayakan menulis karya ilmiah tanpa plagiarisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Check This Out (2)

Check This Out (3)